SEKAPUR SIRIH

Segala Puji dan syukur kita Panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya jualah sehingga Website Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang ini dapat diselesaikan sesuai dengan yang direncanakan.

Baca

      WEB PUSKESMAS

      STATISTIK PENGUNJUNG

200317
Hari Ini
Kemarin
Pekan Ini
Pekan Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
104
100
769
94332
872
4628
200317

Your IP: 3.238.98.214
2021-05-07 23:23

     

    Sejarah Imunisasi di Indonesia telah dimulai sejak abad ke19 yang dilaksanakan untuk pemberantasan penyakit cacar. Program Imunisasi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan telah mencapai banyak keberhasilan selama empat dekade terakhir.

   Imunisasi berasal dari kata imun yang berasal dari bahasa latin, immunitas yang berarti pembebasan atau kekebalan. Imunisasi adalah salah satu upaya tindakan medis yang paling efektif dan efisien. Imunisasi merupakan teknologi yang sangat berhasil di dunia kedokteran oleh Katz (1999) dikatakan imunisasi adalah sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini.

Sejarah Imunisasi di Indonesia, :

1. Tahun 1956 Pelaksanaan kegiatan imunisasi untuk penyakit cacar

2. Tahun 1956 Indonesia berhasil dinyatakan bebas penyakit cacar oleh WHO (Badan Kesehatan Dunia)

3. Tahun 1956 Penyelenggaraan program imunisasi BCG

4. Tahun 1973 Pelaksanaan kegiatan imunisasi untuk penyakit cacar

5. Tahun 1974 Program imunisasi vaksin TT kepada ibu hamil

6. Tahun 1976 Mulai dikembangkan imunisasi DPT pada beberapa kecamatan di pulau Bangka

7. Tahun 1977 Penetapan fase persiapan Pengembangan Program Imunisasi (PPI)

8. Tahun 1980 Program imunisasi secara rutin terus dikembangkan  yaitu BCG, DPT, Polio dan Campak.

9. Tahun 1992 Imunisasi Hepatitis B mulai diperkenalkan kepada beberapa kabupaten di beberapa propinsi

10. Tahun 1995 Penyelenggaraan Pekan Imunisasi Nasional Polio (PIN) I

11. Tahun 1996 Penyelenggaraan Pekan Imunisasi Nasional Polio  (PIN) II

12. Tahun 1997 Penyelenggaraan Pekan Imunisasi Nasional Polio (PIN) III

13. Tahun 1997 Program imunisasi Hepatitis B dilaksanakan secara nasional

 

          Pada tahun 1974, cakupan imunisasi di Indonesia baru mencapai 5% sehingga pemerintah pada tahun 1977 menyelenggarakan PPI atau Expanded Program on Immunization (EPI). Program PPI merupakan program pemerintah dalam bidang imunisasi guna mencapai komitmen internasional dalam rangka percepatan pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada akhir tahun 1982.

           Cakupan imunisasi terus meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga setiap tahun minimal 3 juta anak dapat terhindar dari kematian dan sekitar 750.000 anak terhindar dari kecacatan. Keberhasilan pemerintah dalam mecapai UCI secara nasional dapat dicapai pada tahun 1990 dengan cakupan imunisasi mencapai 90%.

           Program imunisasi melalui PPI ini memiliki tujuan akhir (ultimate goal) sesuai dengan komitmen internasional melalui Global Programme for Vaccines and Immunization (GPVI), yaitu :

·       Eradikasi Polio (ERAPO)

·        Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (Maternal and Neonatal Tetanus Elimination/MNTE)

·       Reduksi Campak (RECAM)

·       Peningkatan mutu pelayanan imunisasi

·        Penetapan standar pemberian suntikan yang aman (safe injection practices)

·        Keamanan pengelolaan limbah tajam (safe waste disposal management)

          Keberhasilan Indonesia dalam penyelenggaraan program imunisasi mampu menarik perhatian dunia. Sehingga Indonesia terlibat dalam mewujudkan aksebilitas, keterjangkauan dan akuntabilitas imunisasi di tingkat global.

          Program imunisasi terus dikembangkan oleh pemerintah, dalam 5 tahun terakhir program imunisasi  berjalan demikian cepatnya, yang awalnya vaksin kombinasi DPTHB dirilis pada tahun 2005, dan digantikan dengan vaksin pentavalen / Pentabio (DPTHBHiB)  pada tahun 2014, yang berguna untuk mencegah penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B dan Pneumonia serta radang selaput otak pada bayi dan anak-anak. Imunisasi ini diberikan secara suntikan pada usia 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan, sebagai imunisasi dasar.

          Pada tahun 2014 ini juga pemerintah mulai memasukkan  imunisasi lanjutan (booster)  vaksin pentavalen / Pentabio yang  diberikan pada  usia 18 bulan untuk Pentabio (DPTHBHiB) dan usia 24 bulan (2 tahun) ulangan imunisasi Campak. Jadi vaksin Pentabio diberikan 4x dan Campak diberikan 2x. Imunisasi ulangan ini diberikan karena berdasarkan penelitian para ahli, pada usia tersebut di atas  titer antibodi anak sudah menurun.

          Perkembangan berikutnya, pada bulan Maret 2016 telah dilakukan PIN Polio untuk seluruh Balita di Indonesia, dengan selesainya PIN Polio ini maka polio serotipe 2 tidak akan ada lagi dalam vaksin polio oral (tetes), jadi dalam polio oral (tetes) hanya ada polio serotipe 1 dan 3, maka hal  ini akan dilengkapi dengan pemberian Vaksin Polio Suntik yang dikenal dengan IPV (Injection Polio Vaccine) yang mengandung polio serotipe 1,2 dan 3. IPV ini akan diberikan pada bayi usia 4 bulan yang akan disuntikkan di paha kiri, Pentabio di paha kanan. Meskipun  begitu IPV tidak menggantikan pemberian imunisasi polio tetes, dengan demikian imunisasi Polio tetes 1,2, 3 dan 4 tetap diberikan pada semua bayi. Jadi seorang bayi akan mendapatkan 5x imunisasi polio ( 4x polio tetes + 1 polio suntikan).  Di Kota Tanjungpinang imunisasi Polio suntikan ini akan diberikan pada bulan Desember 2016 ini.

          Semua vaksin di atas  disediakan oleh pemerintah dan diberikan secara GRATIS di seluruh puskesmas dan  posyandu. S elain PENTABIO, CAMPAK dan POLIO,  imunisasi dasar yang lain adalah Hepatitis B 0 pada usia di bawah 24 jam dan imunisasi BCG yang diberikan pada bayi usia 1 bulan.

          Imunisasi harus diberikan kepada semua bayi dan Balita, sehingga semua anak di Indonesia mempunyai kekebalan tubuh yang sama terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, dengan kata lain  diharapkan CAKUPAN IMUNISASI TINGGI DAN MERATA di seluruh wilayah.

          Tahun 2017 pemerintah Indonesia pun bersiap melakukan sosialisasi MR dan tahun 2018 akan dilakukan penggantian  Vaksin Campak dengan vaksin MR (MR = Measles Rubella = Campak Rubella), yang didahului oleh kampanye MR pada bulan Maret 2018  Dimasukkannya vaksinasi Rubella ini dalam program imunisasi dasar  oleh pemerintah disebabkan oleh tingginya kasus Sindroma Rubella Kongenital pada bayi-bayi baru lahir, yang gejalanya antara lain katarak bawaan, tuli, gangguan jantung bawaan dan kelainan lainnya.

          Demikianlah perkembangan imunisasi ini ditulis, agar seluruh  masyarakat Tanjungpinang mempunyai pemahaman yang sama, dan sama-sama berkeinganan dan mau untuk memberikan imunisasi pada seluruh bayi dan balita, sehingga generasi sehat dan berkualitas bisa kita wujudkan bersama-sama.

 

By : dr.Susi Ptriana, MKKK